oleh

Benarkah Tanaman Jagung Jadi Komoditas Unggulan Di Bumi Menggala

Tulang Bawang, etalaseinfo.com (SMSI) –    Apa yang orang bilang tentang Jagung? Zea Mays Lineus adalah tanaman pangan semusim yang daerah cakupan adaptasinya meliputi dataran rendah sampai dengan dataran tinggi. Dari daerah basah sampai dengan daerah kering, namun tetap memerlukan air yang cukup untuk pertumbuhannya.

Jagung merupakan tanaman yang menarik, khususnya di bidang biologi dan pertanian.  Sejak awal abad ke-20, tanaman ini menjadi objek penelitian genetika yang intensif.  Dari sisi fisiologi, tanaman ini tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari.  Dalam kajian agronomi, respon jagung yang dramatis dan khas terhadap kekurangan atau keracunan unsur-unsur hara penting yang menjadkan jagung sebagai tanaman percobaan fisiologis pemupukan yang sesuai.

Jagung budidaya dianggap sebagai keturunan langsung sejenis tanaman rerumputan mirip jagung yang bernama teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7.000 tahun lalu oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam.

Baca Juga  Ratusan Nakes Bandar Lampung Sudah Divaksin Covid-19

Petunjuk-petunjuk arkeologi mengarah pada budidaya jagung primitif di bagian selatan Meksiko, Amerika Tengah sejak 7.000 tahun lalu. Sisa-sisa tongkol jagung kuno yang ditemukan di Gua Guila Naquitz, Lembah Oaxaca berusia sekitar 6.250 tahun; tongkol utuh tertua ditemukan di gua-gua dekat Tehuacan, Puebla, Meksiko, berusia sekitar 3.450 SM. Bangsa Olmek dan  Maya ditengarai sudah membudidayakan di seantero Amerika Tengah sejak 10.000 tahun yang lalu dan mengenal berbagai teknik pengolahan hasil. Teknologi ini dibawa ke Ekuador  sekitar 7.000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu. Pada saat inilah berkembang jagung yang beradaptasi dengan suhu rendah di kawasan Pegunungan Andes.  Sejak 2.500 SM, tanaman ini telah dikenal di berbagai penjuru Benua Amerika.

Kedatangan orang-orang Eropa sejak akhir abad ke-15 membawa serta jenis-jenis jagung ke Dunia Lama, baik ke Eropa maupun Asia. Penyebaran jagung ke Asia dipercepat dengan terbukanya jalur barat yang dipelopori oleh armada pimpinan Ferdinand Magellan melintasi  Samudera Pasifik. Di tempat-tempat baru ini jagung relatif mudah beradaptasi karena tanaman ini memiliki plastisitas fenotipe yang tinggi.

Baca Juga  Pjs Bupati Way Kanan Wujudkan Titah Presiden

Jagung masuk nusantara diperkirakan pada abad ke-16 oleh penjelajah Portugis. Akibat riwayat yang cukup tua ini, berbagai macam nama dipakai untuk menyebutnya. Kata “jagung” menurut Denys Lombard merupakan penyingkatan dari jawa agung, berarti “jewawut besar”, nama yang digunakan orang jawa dan diadopsi ke dalam bahasa melayu. Beberapa nama lokal adalah jagong (Sunda, Aceh, Batak, Ambon), jago (Bima), jhaghung (Madura), rigi (Nias), eyako (Enggano), wataru (Sumba), latung (Flores), fata (Solor), pena (Timor), gandung (Toraja), kastela (Halmahera), telo (Tidore), binthe atau binde (Gorontalo dan Buol), dan barelle´ (Bugis). Di kawasan timur Indonesia juga dipakai luas istilah milu, yang nyata-nyata merupakan adaptasi dari kata milho, berarti “jagung”, dalam bahasa Portugis.

Apapun namanya  apapun istilahya sekarang jagung menjadi komoditas unggulan tanaman semusim yang ditanam petani di kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang Sai Bumi Nengah Nyappur, dan luas areal tanamnya lebih dari 1.000 ha, yang memanfaatkan pembukaan lahan tidur dan lahan rawa pada musim kemarau. Saat ditempat lain akan berhenti melakukan budidaya karena kesulitan air, justru di daerah rawa akan mulai bertanam jagung karena air sudah surut, dan nantinya akan menjadi panen raya yang akan mendapatkan harga terbaik, karena lahan produktif  di lain daerah tidak bisa dimanfaatkan secara baik.

Baca Juga  Dua Saksi Terkait Dugaan Tipikor Pembiayaan Ekspor Nasional LPEI Tahun 2013-2019 Diperiksa Tim Jampidsus

Semangat petani dalam melakukan budidaya harus selalu dijaga agar tidak menurun atau putus asa, misalnya dari mulai tanam, pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan tanaman, apakah  ada serangan hama penyakit terhadap tanman jagungnya, bagaimana pengendaliannya dan pada tahap kritis perlu penanganan dengan insektisida, fungisida, akarisida, atau agen hayati lainnya yang diperlukan secara tepat dan bijaksana.

Petani harus semakin pintar, semakin cerdas, adaptif dengan perkembangan ilmu dan tehnologi untuk peningkatan cara budidaya dalam rangka meningkatkan ekonominya.(BPP Menggala)

News Feed